Pada saat saya kecil, saya menganggap orang-orang yang bekerja ditambang itu selalu berkecukupan. Gaji tinggi, hidup mewah dan serba berkecukupan. Sampai dengan saya kuliah masih memiliki pendapat yang sama seperti saat saya masih kecil. Sempat terlintas kelak ingin bekerja di tambang. Hal ini juga didukung oleh kedua orang tua saya, dimana beliau berdua (orang tua saya) memberikan gambaran yang asyik tentang dunia tambang.

Tapi ternyata pekerjaan saya berbeda jauh dan melenceng dari “tambang”. Saya mendapat cerita dari teman saya tentang beberapa pekerja tambang dengan penghasilan yang kecil dan serba kekurangan. Timbul tanda tanya besar di kepala saya dan saya sangat tidak percaya jika saya belum melihatnya sendiri. Teman itu merupakan rekan kerja saya se-kantor. Dia berani membuktikan dan menunjukkan ke saya bahwa benar-benar ada “Pekerja Tambang Berpendapatan Kecil”.

Dari sinilah awal perjalanan saya yang sangat menyenangkan dimulai. Kami berempat menggunakan 2 motor berangkat dari kota kecil di Jawa Timur, nama kota itu “Blitar”. Kami berangkat dari Blitar menuju arah Tulungagung melewati desa Ngunut. Ketika mulai keluar dari kota Blitar, kami berjalan searah dengan sungai yang cukup besar dan namanya pun cukup terkenal. Nama sungai itu adalah “Sungai Brantas”. Banyak sekali cerita mengenai sungai tersebut, termasuk pemanfaatan dari sungai itu dan juga bencana-bencana yang diakibatkan dari sungai itu.

Kami berjalan ke arah Barat di jalanan aspal desa yang cukup kecil dan bergelombang, sungai Brantas ada di sisi sebelah kiri kami. Dalam perjalanan tersebut beberapa kali saya melihat tulisan “Tambangan”. Teman saya mulai menjelaskan: nah, kita sudah dekat….sebentar lagi kita bisa melihat daerah tambangan yang saya maksud. Saya menjadi semakin penasaran, mungkin yang dimaksud oleh teman saya adalah daerah penambangan pasir karena dekat dengan sungai besar. Jika benar demikian ya wajar saja ada “Pekerja Tambang Berpendapatan Kecil”.

Motor kami berbelok melalui jalan kecil menuju arah sungai Brantas mengikuti petunjuk arah “Tambangan”. Kami berhenti di tepi sungai Brantas dan saya melihat pemandangan yang sungguh luar biasa serta spektakuler. Kami berhenti dan berhenti sejenak di gubuk yang ada di tepi sungai Brantas itu. Saya yakin gubuk itu memang sengaja dibangun agar orang-orang bisa bersitirahat sejenak di situ.

Ternyata tambangan yang dimaksud bukanlah penambangan pasir, bukan pula penambangan emas ataupun hasil alam lainnya. Yang dimaksud adalah perahu tambang yang digunakan untuk melintasi sungai Brantas yang lebar dan berarus cukup deras. Sedikitnya ada 2 atau 3 orang yang mengoperasikan perahu itu. Perahu itu membantu orang-orang untuk menyebaring sungai Brantas yang cukup lebar dengan arus yg cukup deras. Disebut perahu tambang karena perahu itu diikatkan pada tali tambang agar tidak hanyut terbawa arus sungai yang deras. Orang yang bekerja mengoperasikan perahu itu disebut sebagai “penambang”.

posisi menyeberangBukan hanya orang saja yang bisa menyeberang dengan perahu itu. Hewan ternak, barang-barang dagangan, sepeda, kendaraan bermotor, mobil bahkan truk juga bisa dibantu menyeberang. Untuk satu motor dengan 2 orang penumpang kami cukup membayar Rp. 2.000 saja untuk sekali menyeberang (cukup murah menurut saya). Kami harus mengantri untuk bisa merasakan sensai menyeberangi sungai Brantas menggunakan perahu tambang, karena muatannya terbatas. Setelah tiba giliran kami, dengan hati-hati dan perasaan dag-dig-dug (karena baru pertama kali bagi saya) kami mengarahkan motor kami menuju perahu. Begitu sampai di atas perahu saya menarik nafas panjang dan merasa agak lega….. (saya tidak terlalu bisa berenang, makanya agak takut)

Setelah perahu terisi penumpang dan dirasa cukup, penambang mulai melepaskan ikatan di patok di pinggir sungai. Dengan sebatang galah, penambang tersebut mendorong perahu menuju tengah. Sedikit demi sedikit perahu itu mulai menjauh dari tempat pertama kali kami naik. Arus sungai tersebut membantu arah perahu menuju daratan seberang. Jadi hanya perlu satu dorongan di awal saja untuk menggerakkan perahu itu agar sampai di seberang, selanjutnya arus sungai yang membantu pergerakan perahu. Tidak ada dayung, tidak ada mesin ataupun layar, jadi benar-benar murni perahu itu hanya mengutamakan tambang yang melintang sepanjang sungai Brantas.

Trenyata ada 1 teman saya dari rombongan kami berempat yang benar-benar takut karena dia tidak bisa berenang sama sekali. Melihat sungai besar dan perahu saja dia sudah diam terpaku dan tidak bisa berkata apa-apa. Sebenarnya dia tidak berani ikut menyeberang dengan perahu tambang itu, tetapi kami bujuk dan dipaksa sehingga akhirnya dia mau juga. Kejadian-kejadian lucu pun terus berlanjut selama berada di atas perahu dan dalam penyebarangan. Saking takutnya, dia memilih untuk duduk di tengah-tengah perahu dan berpegangan pada kotak kayu tempat dia duduk sambil memejamkan matanya serta berpesan “kasih tahu ya kalau sudah sampai”. Tetapi apa yang terjadi akhirnya setelah sampai seberang? Dia berkomentar: ternyata enak ya, ayo nanti kita coba lagi hahaha…. Kami berempat tertawa mentertawakan kelakuan konyol 1 orang teman kami itu.

Kebetulan saat kami menyebarang di waktu sore hari, sehingga tidak terlalu panas. Sungai Brantas di lokasi tersebut airnya mengalir dari Timur ke Barat. Saat kami menyeberang, kami bisa melihat ke arah Barat, air sungai yang terkena sinar matahari sore hari. Benar-benar terlihat kemilau bercahaya. Pemandangan yang sungguh luar biasa, jarang sekali bisa menemui situasi seperti ini dengan tempat dan suasana yang sangat mendukung. Hembusan angin yang tidak terlalu kencang namun cukup membuat rambut jadi acak-acakan. Kami juga bisa merasakan nikmatnya goyangan perahu akibat dari gelombang arus sungai yang terkadang membuat pusing dan mual bagi yang tidak terbiasa. Nikmatilah saja perjalanan menyebarang itu, buat suasana hati senyaman dan sesenang mungkin, maka tidak akan merasa pusing ataupun mual.

Di perahu itu pun kami sempat bercakap-cakap dengan penduduk setempat dan penambang perahu. Kesempatan langka ini benar-benar saya manfaatkan, untuk mengenal lebih dekat daerah tersebut. Dari percakapan tersebut kami mendapatkan banyak sekali informasi secara gratis, hanya bermodalkan mau mengawali bicara dan bersikap rendah hati serta tidak sombong. Banyak sekali hal yang kami dapat seperti bagaimana jika banjir atau sebaliknya (sungai kering), bagaimana keamanan jika tambang putus, bagaimana kondisi alam jika hujan turun dan arus tidak menentu, bagaimana kondisi lingkungan sekitar dan masih banyak lagi yang lain. Meski hanya dalam waktu yang relatif sangat singkat namun kami bisa mendapatkan banyak sekali informasi.

Sesampainya di dartan seberang, secara bergantian kami keluar dari perahu. Biasanya didahulu oleh orang yang tidak berkendara. Dilanjutkan oleh mobil atau truk dan berikutnya baru motor atau sesuai dengan posisi dan letak di perahu. Terasa sangat singkat penyeberangan itu, ingin rasanya lebih lama lagi berada di tengah-tengah sungai Brantas itu. Setelah semua penumpang turun dari perahu, berganti penumpang lain naik satu per satu ke dalam perahu secara urut. Mereka adalah penumpang yang ingin menyeberang ke daratan sebelah dimana kami memulai perjalanan menyeberang sungai Brantas.

Berwisata tidak harus selalu mahal atau ke tempat-tempat wisata yang terkenal. Suasana apapun juga dan tempat apapun juga bisa menjadi sangat menarik jika hati kita bisa benar-benar menikmati. Daerah tambangan yang dianggap biasa oleh penduduk setempat bisa menjadi hal yang sunggul luar biasa bagi orang-orang yang jarang melihat dan merasakannya. Berwisata ke daerah tambangan hanya memerlukan biaya yang relatif sangat kecil untuk bisa merasakan suasana yang berbeda. Kita juga tidak membutuhkan waktu yang lama dan tidak pula menguras tenaga seperti mengunjungi tempat-tempat wisata yang relatif luas. Yang terpenting di sini adalah perasaan nyaman, senang, damai dan tenteram.

Yang terpenting bukanlah tempat tujuan wisata, tetapi nuansa dan suasan selama perjalanan dan selama merasakan pengalaman baru ini. Jika kita ingin bersantai sejenak untuk membuang rasa lelah dan beban pikiran, kita bisa bersitirahat di gubuk-gubuk yang dibangun di pinggir sungai Brantas. Gubuk itu sengaja dibangun untuk tempat menunggu bagi penumpang yang hendak menyeberang dengan perahu tambang. Kita bisa menikmati susana sambil ngobrol bersama teman, memperhatikan alam sekitar dan melihat perahu yang sedang menyeberang. Kondisi ini bisa menyegarkan kembali pikiran kita dan tentunya juga tubuh kita karena udaranya sangat bersih, jauh dari polusi udara.

Setelah mencoba sekali akhirnya membuat saya menjadi ketagihan, sampai saat ini sudah tidak terhitung lagi saya mencoba perahu tambangan. Cobalah dan rasakan sensai yang luar biasa, jangan lupa untuk menyiapkan uang kecil untuk ongkos penambang. Tentunya tidak ketinggalan siapkan camera Anda dan bersiaplah untuk mengambil banyak sekali gambar yang menarik. Selamat mencoba……

Jumat, 2 September 2011

Yossytama Kurniawan

 Truk & mobil