Posts from the ‘Lain – lain’ Category

Mysterious Road Gunung Kelud

MISTERI JALAN SEPANJANG 100 METER

GerbangGunungKelud1

Lokasinya berada di lereng gunung Kelud yang berjarak kurang lebih 3km dari puncak Gunung Kelud. Lokasi ini tepatnya di Kabupaten Kediri propinsi Jawa Timur. Sampai saat ini gunung Kelud yang merupakan gunung api yang masih aktif menjadi salah satu icon wisata kabupaten Kediri. Puncak gunung Kelud berjarak sekitar 40km dari kota Kediri atau sekitar 1 jam perjalanan menggunakan kendaraan bermotor. Untuk mencapai lokasinya tidaklah sulit, kita tinggal mengikuti arah menuju puncak gunung Kelud saja. Kita akan melewati gerbang memasuki daerah wisata gunung Kelud dan saat kita sudah sampai

Mysterious Road

di lokasi kita akan melihat ada petunjuk dan informasi mengenai lokasi jalan misteri tersebut. Ada baliho, papan pengumuman dan pada jalan aspal sepanjang kurang lebih 100 meter ada tulisan “mysterious road”.

Saya pernah mendengar informasi tentang jalan misteri di daerah gunung Kelud ini. Bersama dengan teman saya dari Medan dan Klaten, kami berniat untuk melihat lokasi tersebut dan tentunya mencoba hal yang menjadi misteri tersebut. Kami meluncur dari kota Blitar, mengikuti petunjuk arah menuju puncak gunung Kelud. Perjalanan kami cukup lama karena  sempat nyasar juga, dan harus bertanya-tanya serta mencari petunjuk arah yang menuntun kami ke puncak gunung Kelud. Meski saya berasal dari kota Blitar yang cukup terjangkau menuju gunung Kelud tetapi saya jarang sekali berwisata ke arah gunung Kelud.

GerbangGunungKelud2

 Setelah arah kami benar, akhirnya kami sampai di gerbang wisata gunung Kelud. Kami menanyakan kepada petugas di mana tepatnya lokasi jalan misteri tersebut. Petugas itu memberi pengarahan kepada kami, tinggal mengikuti jalan aspal saja menuju puncak gunung Kelud, nanti juga akan melewati jalan misteri tersebut. Benar juga, dengan mengikut petunjuk tersebut akhirnya kami sampai juga di lokasi jalan misteri tersebut.

Sampai di lokasi kami berfoto terlebih dahul, mengabadikan moment penting ini. Petunjuk-petunjuk kami foto, tulisan yang terdapat di jalan itu pun kami foto. Beristirahat sejenak melepas lelah perjalanan kami yang cukup panjang ini. Kemudian kami mulai mengamati kondisi jalan, lokasi sekitar dan mulai berargumentasi tentang fenomena alam ini. Kami mencoba keunikan jalan tersebut, kendaraan kami posisikan di atas jalan tersebut. Mesin kami matikan dan kami mulai melihat efeknya. Saat rem dilepas, perlahan kendaraan itu bergerak naik dan semakin lama semakin kencang. Kami mencobanya beberapa kali, tidak hanya satu kali saja dan kembali lagi kami merasakan sensasi tersebut.

Mulailah dari kami mengeluarkan pendapat masing-masing. Ada yang berpendapat adanya gaya magnet / gaya tarik dari gunung Kelud sehingga mampu menggerakkan kendaraan (rasanya kendaraan seperti ada yang menarik). Teman lain berpendapat mungkin itu ulah dari salah satu jin penunggu lokasi tersebut 😀 Ada pula yang berpendapat sebenernya itu hanya pandangan semu atau tipuan pengelihatan saja, karena jalan itu sebenarnya datar dan cenderung menurun. Karena kita meliha dari satu titik tertentu, seolah-olah jalan itu menanjak. Untuk kebenaran faktanya apa memang sampai saat ini saya tidak tahu, mungkin memang ini adalah salah satu fenomena alam yang unik dan hadiah special dari “Sang Pencipta”.

Jika Anda berkunjung ke Jawa Timur, sempatkan untuk mengunjungi tempat ini dan meraakan sendiri sensasi yang luar biasa ini. Sekalian mengunjungi puncak gunung Kelud yang hanya berjarak sekitar 3km dari lokasi jalan misteri ini. Sekali berkunjung juga bisa menikmati tempat-tempat wisata di sekitarnya yang berada di kota Kediri, Blitar, Batu-Malang.

Maret 2013,

Yossytama Kurniawan

Pekerja Tambang Berpendapatan Kecil

Pada saat saya kecil, saya menganggap orang-orang yang bekerja ditambang itu selalu berkecukupan. Gaji tinggi, hidup mewah dan serba berkecukupan. Sampai dengan saya kuliah masih memiliki pendapat yang sama seperti saat saya masih kecil. Sempat terlintas kelak ingin bekerja di tambang. Hal ini juga didukung oleh kedua orang tua saya, dimana beliau berdua (orang tua saya) memberikan gambaran yang asyik tentang dunia tambang.

Tapi ternyata pekerjaan saya berbeda jauh dan melenceng dari “tambang”. Saya mendapat cerita dari teman saya tentang beberapa pekerja tambang dengan penghasilan yang kecil dan serba kekurangan. Timbul tanda tanya besar di kepala saya dan saya sangat tidak percaya jika saya belum melihatnya sendiri. Teman itu merupakan rekan kerja saya se-kantor. Dia berani membuktikan dan menunjukkan ke saya bahwa benar-benar ada “Pekerja Tambang Berpendapatan Kecil”.

Dari sinilah awal perjalanan saya yang sangat menyenangkan dimulai. Kami berempat menggunakan 2 motor berangkat dari kota kecil di Jawa Timur, nama kota itu “Blitar”. Kami berangkat dari Blitar menuju arah Tulungagung melewati desa Ngunut. Ketika mulai keluar dari kota Blitar, kami berjalan searah dengan sungai yang cukup besar dan namanya pun cukup terkenal. Nama sungai itu adalah “Sungai Brantas”. Banyak sekali cerita mengenai sungai tersebut, termasuk pemanfaatan dari sungai itu dan juga bencana-bencana yang diakibatkan dari sungai itu.

Kami berjalan ke arah Barat di jalanan aspal desa yang cukup kecil dan bergelombang, sungai Brantas ada di sisi sebelah kiri kami. Dalam perjalanan tersebut beberapa kali saya melihat tulisan “Tambangan”. Teman saya mulai menjelaskan: nah, kita sudah dekat….sebentar lagi kita bisa melihat daerah tambangan yang saya maksud. Saya menjadi semakin penasaran, mungkin yang dimaksud oleh teman saya adalah daerah penambangan pasir karena dekat dengan sungai besar. Jika benar demikian ya wajar saja ada “Pekerja Tambang Berpendapatan Kecil”.

Motor kami berbelok melalui jalan kecil menuju arah sungai Brantas mengikuti petunjuk arah “Tambangan”. Kami berhenti di tepi sungai Brantas dan saya melihat pemandangan yang sungguh luar biasa serta spektakuler. Kami berhenti dan berhenti sejenak di gubuk yang ada di tepi sungai Brantas itu. Saya yakin gubuk itu memang sengaja dibangun agar orang-orang bisa bersitirahat sejenak di situ.

Ternyata tambangan yang dimaksud bukanlah penambangan pasir, bukan pula penambangan emas ataupun hasil alam lainnya. Yang dimaksud adalah perahu tambang yang digunakan untuk melintasi sungai Brantas yang lebar dan berarus cukup deras. Sedikitnya ada 2 atau 3 orang yang mengoperasikan perahu itu. Perahu itu membantu orang-orang untuk menyebaring sungai Brantas yang cukup lebar dengan arus yg cukup deras. Disebut perahu tambang karena perahu itu diikatkan pada tali tambang agar tidak hanyut terbawa arus sungai yang deras. Orang yang bekerja mengoperasikan perahu itu disebut sebagai “penambang”.

posisi menyeberangBukan hanya orang saja yang bisa menyeberang dengan perahu itu. Hewan ternak, barang-barang dagangan, sepeda, kendaraan bermotor, mobil bahkan truk juga bisa dibantu menyeberang. Untuk satu motor dengan 2 orang penumpang kami cukup membayar Rp. 2.000 saja untuk sekali menyeberang (cukup murah menurut saya). Kami harus mengantri untuk bisa merasakan sensai menyeberangi sungai Brantas menggunakan perahu tambang, karena muatannya terbatas. Setelah tiba giliran kami, dengan hati-hati dan perasaan dag-dig-dug (karena baru pertama kali bagi saya) kami mengarahkan motor kami menuju perahu. Begitu sampai di atas perahu saya menarik nafas panjang dan merasa agak lega….. (saya tidak terlalu bisa berenang, makanya agak takut)

Setelah perahu terisi penumpang dan dirasa cukup, penambang mulai melepaskan ikatan di patok di pinggir sungai. Dengan sebatang galah, penambang tersebut mendorong perahu menuju tengah. Sedikit demi sedikit perahu itu mulai menjauh dari tempat pertama kali kami naik. Arus sungai tersebut membantu arah perahu menuju daratan seberang. Jadi hanya perlu satu dorongan di awal saja untuk menggerakkan perahu itu agar sampai di seberang, selanjutnya arus sungai yang membantu pergerakan perahu. Tidak ada dayung, tidak ada mesin ataupun layar, jadi benar-benar murni perahu itu hanya mengutamakan tambang yang melintang sepanjang sungai Brantas.

Trenyata ada 1 teman saya dari rombongan kami berempat yang benar-benar takut karena dia tidak bisa berenang sama sekali. Melihat sungai besar dan perahu saja dia sudah diam terpaku dan tidak bisa berkata apa-apa. Sebenarnya dia tidak berani ikut menyeberang dengan perahu tambang itu, tetapi kami bujuk dan dipaksa sehingga akhirnya dia mau juga. Kejadian-kejadian lucu pun terus berlanjut selama berada di atas perahu dan dalam penyebarangan. Saking takutnya, dia memilih untuk duduk di tengah-tengah perahu dan berpegangan pada kotak kayu tempat dia duduk sambil memejamkan matanya serta berpesan “kasih tahu ya kalau sudah sampai”. Tetapi apa yang terjadi akhirnya setelah sampai seberang? Dia berkomentar: ternyata enak ya, ayo nanti kita coba lagi hahaha…. Kami berempat tertawa mentertawakan kelakuan konyol 1 orang teman kami itu.

Kebetulan saat kami menyebarang di waktu sore hari, sehingga tidak terlalu panas. Sungai Brantas di lokasi tersebut airnya mengalir dari Timur ke Barat. Saat kami menyeberang, kami bisa melihat ke arah Barat, air sungai yang terkena sinar matahari sore hari. Benar-benar terlihat kemilau bercahaya. Pemandangan yang sungguh luar biasa, jarang sekali bisa menemui situasi seperti ini dengan tempat dan suasana yang sangat mendukung. Hembusan angin yang tidak terlalu kencang namun cukup membuat rambut jadi acak-acakan. Kami juga bisa merasakan nikmatnya goyangan perahu akibat dari gelombang arus sungai yang terkadang membuat pusing dan mual bagi yang tidak terbiasa. Nikmatilah saja perjalanan menyebarang itu, buat suasana hati senyaman dan sesenang mungkin, maka tidak akan merasa pusing ataupun mual.

Di perahu itu pun kami sempat bercakap-cakap dengan penduduk setempat dan penambang perahu. Kesempatan langka ini benar-benar saya manfaatkan, untuk mengenal lebih dekat daerah tersebut. Dari percakapan tersebut kami mendapatkan banyak sekali informasi secara gratis, hanya bermodalkan mau mengawali bicara dan bersikap rendah hati serta tidak sombong. Banyak sekali hal yang kami dapat seperti bagaimana jika banjir atau sebaliknya (sungai kering), bagaimana keamanan jika tambang putus, bagaimana kondisi alam jika hujan turun dan arus tidak menentu, bagaimana kondisi lingkungan sekitar dan masih banyak lagi yang lain. Meski hanya dalam waktu yang relatif sangat singkat namun kami bisa mendapatkan banyak sekali informasi.

Sesampainya di dartan seberang, secara bergantian kami keluar dari perahu. Biasanya didahulu oleh orang yang tidak berkendara. Dilanjutkan oleh mobil atau truk dan berikutnya baru motor atau sesuai dengan posisi dan letak di perahu. Terasa sangat singkat penyeberangan itu, ingin rasanya lebih lama lagi berada di tengah-tengah sungai Brantas itu. Setelah semua penumpang turun dari perahu, berganti penumpang lain naik satu per satu ke dalam perahu secara urut. Mereka adalah penumpang yang ingin menyeberang ke daratan sebelah dimana kami memulai perjalanan menyeberang sungai Brantas.

Berwisata tidak harus selalu mahal atau ke tempat-tempat wisata yang terkenal. Suasana apapun juga dan tempat apapun juga bisa menjadi sangat menarik jika hati kita bisa benar-benar menikmati. Daerah tambangan yang dianggap biasa oleh penduduk setempat bisa menjadi hal yang sunggul luar biasa bagi orang-orang yang jarang melihat dan merasakannya. Berwisata ke daerah tambangan hanya memerlukan biaya yang relatif sangat kecil untuk bisa merasakan suasana yang berbeda. Kita juga tidak membutuhkan waktu yang lama dan tidak pula menguras tenaga seperti mengunjungi tempat-tempat wisata yang relatif luas. Yang terpenting di sini adalah perasaan nyaman, senang, damai dan tenteram.

Yang terpenting bukanlah tempat tujuan wisata, tetapi nuansa dan suasan selama perjalanan dan selama merasakan pengalaman baru ini. Jika kita ingin bersantai sejenak untuk membuang rasa lelah dan beban pikiran, kita bisa bersitirahat di gubuk-gubuk yang dibangun di pinggir sungai Brantas. Gubuk itu sengaja dibangun untuk tempat menunggu bagi penumpang yang hendak menyeberang dengan perahu tambang. Kita bisa menikmati susana sambil ngobrol bersama teman, memperhatikan alam sekitar dan melihat perahu yang sedang menyeberang. Kondisi ini bisa menyegarkan kembali pikiran kita dan tentunya juga tubuh kita karena udaranya sangat bersih, jauh dari polusi udara.

Setelah mencoba sekali akhirnya membuat saya menjadi ketagihan, sampai saat ini sudah tidak terhitung lagi saya mencoba perahu tambangan. Cobalah dan rasakan sensai yang luar biasa, jangan lupa untuk menyiapkan uang kecil untuk ongkos penambang. Tentunya tidak ketinggalan siapkan camera Anda dan bersiaplah untuk mengambil banyak sekali gambar yang menarik. Selamat mencoba……

Jumat, 2 September 2011

Yossytama Kurniawan

 Truk & mobil